Ironis! India Bergulat dengan Kelaparan, padahal Lumbung Pangan Dunia

Ironis! India Bergulat dengan Kelaparan, padahal Lumbung Pangan Dunia

Farmers work in a paddy field on the outskirts of Guwahati, India, Tuesday, June 6, 2023. Experts are warning that rice production across South and Southeast Asia is likely to suffer with the world heading into an El Nino. (AP Photo/Anupam Nath)

India adalah salah satu produsen terbesar komoditas pertanian, seperti beras, gandum, susu dan tebu. Meski begitu, jutaan orang di sana masih dihantam kelaparan.

Negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia ini berada di peringkat 111 dari 125 negara dalam Indeks Kelaparan Global yang belum lama ini diterbitkan. Data tersebut yang menyebut tingkat kelaparan di India sebagai “masalah terbesar” dan “serius”.

India juga merupakan https://sportifkas138.shop/ tempat seperempat dari jumlah penduduk dunia yang mengalami kekurangan gizi dan merupakan rumah bagi lebih dari 190 juta orang yang kelaparan.

“Kelaparan adalah masalah terbesar di India,” kata Amit Sharma, ketua tim pelaksana perdagangan global Bunge, seperti dikutip dariĀ CNBC International, Rabu (31/1/2024).

“Masih ada [jutaan] orang yang kelaparan. Mereka masih belum mendapatkan makanan yang mereka inginkan. Jika mereka mendapat makanan, maka makanan tersebut tidak bergizi,” tambahnya.

Logistik dan Rantai Pasokan

Sharma mengatakan sebagian besar permasalahannya terletak pada kemunduran logistik. “Satu-satunya alasan adalah karena tidak ada rantai pasokan. Tidak ada yang berbicara tentang rantai pasokan. Tidak ada yang membicarakan logistik,” katanya.

Menurut data dari Administrasi Perdagangan Internasional (ITA), bagian dari Departemen Perdagangan Amerika Serikat (AS), infrastruktur yang buruk di India telah menyebabkan hampir 40% kerugian pascapanen untuk beberapa produk.

Kerugian pascapanen mengacu pada hilangnya pangan dalam rantai pasokan mulai dari pemanenan hingga proses konsumsi. Sayuran dan buah-buahan akan kadaluarsa lebih cepat jika tidak ada ruang pendingin, dan ratusan ton biji-bijian makanan berisiko membusuk di gudang.

“Alasan lain rendahnya produktivitas India adalah sistem distribusi pangan yang tidak efisien, cuaca yang tidak menentu dan tidak biasa, peraturan yang ketat serta kurangnya pendidikan dan pelatihan bagi petani,” kata ITA.

Masalah pangan di India juga diperburuk oleh fakta bahwa kelas menengah yang semakin meningkat akan menuntut lebih banyak pangan, dan juga pangan berkualitas lebih baik.

Fluktuasi Pasokan

India adalah produsen susu terbesar di dunia, dan produsen beras, gandum, sayuran, dan buah terbesar kedua. Negara ini juga mengklaim pemerintahannya “mandiri dan kompetitif secara internasional.”

Namun dalam satu tahun terakhir, ketidakstabilan pasokan dan pergerakan harga untuk produk makanan penting telah menyebabkan pemerintah membatasi pengiriman ke luar negeri. India menghadapi fluktuasi pasokan.

Dalam upaya mengendalikan harga bawang merah dalam negeri, India melarang ekspor bawang merah dari Desember hingga Maret. Pada Oktober, negara ini memperpanjang pembatasan ekspor gula yang dimulai pada September.

India, eksportir beras terbesar dunia, juga melarang ekspor beras putih non-basmati pada Juli. Harga tomat, bahan pokok penting dalam masakan lokal, juga meroket tahun lalu karena kondisi cuaca buruk.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*